Keberhasilan swasembada pangan dimulai dari ketepatan waktu tanam dan pemilihan ekotipe tanaman yang sesuai dengan karakteristik agroekosistem lahan Anda.
Melalui sistem pendukung keputusan ini, kami menyajikan data pengujian multi-kriteria berbasis metode VIKOR untuk mengompromikan berbagai keunggulan varietas padi, diselaraskan dengan periode musim tanam (MT) guna menekan risiko gagal panen akibat anomali iklim dan serangan OPT.
Secara umum, varietas benih padi yang beredar di Indonesia dikelompokkan ke dalam 3 jenis utama:
Padi yang dihasilkan dari penyerbukan sendiri tanpa persilangan buatan. Keunggulannya adalah kestabilan genetik yang tinggi, sehingga benih dari hasil panen pertamanya masih bisa disimpan dan ditanam kembali untuk musim berikutnya tanpa menurunkan kualitas produksi secara drastis. Penamaan disesuaikan ekosistem: Inpari (sawah irigasi), Inpara (lahan rawa), dan Inpago (lahan gogo kering).
Padi keturunan pertama (F1) hasil persilangan antara dua induk yang berbeda sifat secara terkontrol. Varietas ini memiliki efek heterosis yang membuat pertumbuhannya sangat seragam, anakan aktif jauh lebih banyak, pengisian bulir lebih optimal, dan potensi hasil panen bisa mencapai 20-30% lebih tinggi dibanding inbrida. Namun, gabah hasil panennya tidak boleh dijadikan benih kembali karena produksinya akan merosot tajam pada generasi F2.
Varietas padi yang telah lama dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani di daerah tertentu dan telah beradaptasi dengan iklim mikro setempat. Meskipun umur panennya cenderung sangat lama (bisa mencapai 5-6 bulan) dan volumenya tidak sebanyak inbrida baru, padi lokal (seperti Pandan Wangi atau Cianjur) memiliki ketahanan alami yang sangat kuat terhadap cekaman lingkungan setempat serta memiliki nilai jual premium karena rasa nasi dan aroma khas yang disukai pasar.
Varietas padi yang telah lama dibudidayakan secara turun-temurun oleh petani di daerah tertentu dan telah beradaptasi dengan iklim mikro setempat. Meskipun umur panennya cenderung sangat lama (bisa mencapai 5-6 bulan) dan volumenya tidak sebanyak inbrida baru, padi lokal (seperti Pandan Wangi atau Cianjur) memiliki ketahanan alami yang sangat kuat terhadap cekaman lingkungan setempat serta memiliki nilai jual premium karena rasa nasi dan aroma khas yang disukai pasar.
Pembagian pola tanam utama di Indonesia yang diselaraskan dengan kondisi perubahan iklim musim hujan dan musim kemarau:
Dikenal juga sebagai Musim Rendengan. Penanaman dimulai tepat pada awal siklus musim hujan, di mana ketersediaan debit air sangat melimpah baik di jejaring irigasi teknis maupun lahan tadah hujan. Kondisi basah yang konsisten ini sangat ideal bagi pertumbuhan vegetatif padi sawah untuk memaksimalkan jumlah anakan aktif. Pada periode musim hujan ini, hampir semua jenis varietas padi yang berpotensi hasil panen tinggi dapat diproduksikan hingga kapasitas optimumnya karena pasokan air tidak menjadi faktor pembatas utama.
Dikenal sebagai Musim Gadu. Budidaya padi pada periode ini dilaksanakan menerobos fase transisi hingga masuk ke dalam siklus musim kemarau. Karena debit pasokan pengairan dari bendungan perlahan mulai menyusut, strategi pemilihan benih harus diubah secara ketat. Petani sangat direkomendasikan memilih varietas padi yang adaptif terhadap cekaman kekeringan (Drought Tolerant) atau varietas berumur genjah (cepat panen) agar fase pengisian bulir gabah selesai sebelum air kritis. Keunggulan MT II ini adalah paparan sinar matahari penuh yang membuat kualitas gabah kering giling menjadi lebih bersih dan minim jamur.
| Ranking | Nama Alternatif | Nilai Qi | Aksi |
|---|---|---|---|
| 1 | Muncul | 0 | |
| 2 | Inpari 47 | 0.368132 | |
| 3 | Mapan | 0.387363 | |
| 4 | Ketan | 0.510989 | |
| 5 | Inpari 32 | 0.538462 | |
| 6 | Inpari 33 | 0.576923 | |
| 7 | Ciherang | 0.634615 | |
| 8 | IR64 | 0.78022 | |
| 9 | Mekongga | 0.788462 | |
| 10 | ketan grendel | 1 |
Berdasarkan perhitungan VIKOR untuk Musim Tanam 1 (MT 1), varietas Muncul menempati peringkat pertama dengan nilai Qi terendah sebesar 0. Varietas ini menjadi rekomendasi kompromi terbaik untuk periode tanam musim hujan.
| Ranking | Nama Alternatif | Nilai Qi | Aksi |
|---|---|---|---|
| 1 | Inpari 33 | 0 | |
| 2 | Inpari 32 | 0.13125 | |
| 3 | Ciherang | 0.209375 | |
| 4 | Inpari 47 | 0.45625 | |
| 5 | Mekongga | 0.534375 | |
| 6 | Muncul | 0.675 | |
| 7 | Mapan | 0.859375 | |
| 8 | Ketan | 0.9 | |
| 9 | IR64 | 0.9 | |
| 10 | ketan grendel | 0.9 |
Berdasarkan perhitungan VIKOR untuk Musim Tanam 2 (MT 2), varietas Inpari 33 menempati peringkat pertama dengan nilai Qi terendah sebesar 0. Varietas ini menjadi rekomendasi kompromi terbaik untuk periode tanam musim kemarau.